Back to Posts

Menggugah Kesadaran Membaca Melalui Perayaan Hari Buku Nasional

Peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas) jatuh setiap 17 Mei. Tidak ada perayaan besar-besaran di hari itu. Tak ubah layaknya hari biasa. Beda halnya dengan Hari Buku Sedunia yang lebih gegap gempita. Setidaknya para pelaku perbukuan mengenal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day).

Harbuknas pun tidak menimbulkan efek apa-apa di dunia perbukuan Indonesia. Meskipun pencetusnya punya harapan besar dengan menandai hari ke-17 di bulan Mei itu sebagai hari bersejarah untuk buku. Adalah Abdul Malik Fajar, Mantan Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Gotong Royong, yang pada 2002 mencetuskan ide perlunya membuat Harbuknas. Sebagai informasi, 17 Mei juga tanggal bersejarah bagi Perpustakaan Nasional. Sebab, tanggal tersebut merupakan peringatan pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Ada tujuan mulia dibalik penetapan Hari Buku Nasional ini. Salah satunya, penetapan hari tersebut dapat meningkatkan minat baca masyarakat yang berbanding lurus dengan penjualan buku di Indonesia. Selain itu, momentum tersebut dapat membuat masyarakat Indonesia intim dengan perpustakaan (nasional).

Namun, siapa sangka, penetapan Harbuknas tidak sejalan dengan harapan mulianya. Minat baca masyarakat Indonesia (tetap) rendah dan perpustakaan pun masih sepi pengunjung. Pada 2011 UNESCO merilis data yang mengejutkan, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Data ini menunjukkan bahwa hanya 1 orang dari 1.000 orang Indonesia yang membaca buku serius.

Data terbaru yang dikeluarkan oleh Most Literate Nations in the World pada Maret 2016 mengenai peringkat literasi internasional, Indonesia berada pada posisi ke-60 dari 61 negara. Ini juga sejalan dengan data yang dimiliki oleh World Education Forum di bawah naungan PBB. Tingkat pendidikan Indonesia yang berkaitan erat dengan buku dan minat baca, masih berada di urutan bawah, posisi 69 dari 76 negara.

Lalu, apa upaya untuk meningkatkan minat baca ini? Pastinya, perlu ada perhatian khusus dari pemerintah dalam dunia perbukuan. Hal ini bisa dilihat dari negara-negara maju yang membuat kebijakan sistem perbukuan yang berpihak kepada masyarakat. Kebijakan ini sebagai upaya menggairahkan dan memajukan penerbitan sekaligus memacu minat baca masyarakat sehingga mampu mencerdaskan bangsa dan negara.

Undang-Undang Perbukuan yang disahkan pada 27 April lalu diharapkan membawa angin segar di dunia penerbitan dan perbukuan. Menurut Muhadjir Effendy UU Perbukuan bertujuan meningkatkan literasi bangsa. Sebab, kemampuan literasi suatu bangsa seiring dan sejalan dengan kemajuan negara. Semoga UU Perbukuan benar-benar membawa perubahan yang signifikan bagi dunia literasi!

Sekedar informasi, bukularis.co.id memberikan double diskon untuk merayakan hari buku nasional tahun ini. Masukan kode voucher “HARIBUKU” untuk mendapatkan diskon 20%+20% untuk setiap pembelian.

Share this post

Back to Posts